Pilih Laman

Ekosistem mangrove nampak tidak familiar untuk dikunjungi sebagai pilihan tepat untuk mengisi akhir pekan. Rasanya, tidak terlalu banyak juga orang yang tertarik karena memang informasi mengenai wisata ekosistem mangrove tidak tersedia di semua tempat. Jikapun ada, wisata ini hanya terdapat di lokasi tertentu saja—pantai dengan ombak yang relatif tenang. Padahal, ekosistem mangrove menyimpan keindahan alam yang tidak ditemukan di tempat lainnya, keindahan tersebut sering juga berpadu dengan eksotisme budaya yang unik, sehingga akan menjadi atraksi budaya dan pengalaman yang mengesankan untuk dikunjungi.

Alasan lain yang membuat sebagian orang tidak tertarik berkunjung ke ekosistem mangrove karena akses untuk sampai ke sana biasanya cukup sulit dilalui, seperti kondisi permukaan tanahnya yang berlumpur dan akses yang jauh dari pemukiman. Orang-orang yang melakukan perjalanan ke kawasan mangrove biasanya mereka yang memiliki tujuan khusus seperti kegiatan penelitian ataupun kegiatan yang berkaitan dengan upaya konservasi saja.

Salah satu bagian dari ekosistem mangrove yang paling unik dan menarik adalah tumbuhan bakau (Rhizophora sp). Penting untuk diketahui bahwa sebagian masyarakat Indonesia belum tepat menempatkan pengertian mangrove dan bakau. Mangrove sebenarnya mencakup semua jenis tumbuhan apapun yang ada di kawasan tanah yang memiliki salinitas tinggi, tergenang, berlumpur, atau terpengaruh pasang suru air laut. Sementara itu, tanaman bakau merujuk kepada tanaman dari jenis Rhizopora sp saja. Jadi tanaman bakau (Rhizopora sp) adalah salah satu jenis tumbuhan dari ekosistem mangrove. Bakau dan mangrove bukan tumbuhan yang memiliki makna yang sama.

Ekosistem Sejuta Manfaat

Tanaman mangrove pada umumnya memiliki perakaran bercabang yang dapat menahan gelombang air laut, tumbuh pada kondisi tanah yang miskin dengan unsur hara, dan dapat bertahan hidup dalam kondisi tanah dengan salinitas tinggi. Adaptasi ini tak dapat dilakukan oleh tumbuhan jenis lain, karenanya mangrove seperti seorang ‘penjahat’ yang hidupnya terisolasi dari komunitas tumbuhan lainnya. Kendati begitu, mangrove menjadi garda terdepan dalam menahan gelombang air laut jika masuk ke pemukiman masyarakat.

Mangrove merupakan ekosistem yang sangat produktif. Mangrove dapat dimanfaatkan langsung untuk kegiatan pariwisata, pendidikan, bahan baku industri, kayu, bahan pangan, bahan obat, dan perikanan (Setiawan & Winarno, 2006). Mangrove secara umum memiliki fungsi yang sangat penting dalam menunjang kehidupan manusia dan organisme lainnya. Kawasan mangrove merupakan tempat persembunyian dan perkembangbiakan ikan, kepiting, udang, dan moluska. Tempat bersarang dan tempat singgah ratusan jenis burung ketika bermigrasi. Mangrove juga  merupakan habitat dari kera, kucing hutan, kadal monitor, penyu laut, ikan gelodog, dan buaya muara (Setyawan et al., 2002).

Fungsi ekologis hutan mangrove di kawasan pesisir, diantaranya: mengolah limbah beracun, penghasil O2 dan penyerap CO2 (Irwanto, 2008). Hutan mangrove memiliki serapan karbon dioksida (CO2) yang cukup besar (Chanan, 2011; Heryanto et al., 2012; Hanafi & Bernardianto, 2012). Donato et al. (2011) menjelaskan bahwa mangrove menyimpan karbon lebih dari hampir semua hutan lainnya di bumi, tiap hektar ekosistem mangrove menyimpan sampai empat kali lebih banyak karbon daripada kebanyakan hutan tropis lainnya di seluruh dunia.

Mangrove mengurangi karbon di atmosfer (CO2) melalui proses fotosintesis dan menyimpannya dalam jaringan tumbuhan (Sutaryo, 2009). Proses reduksi CO2 yang terjadi pada ekosistem mangrove memiliki peran penting dalam mitigasi perubahan iklim akibat pemanasan global. Mangrove mampu mereduksi CO2 melalui mekanisme sekuestrasi, yaitu penyerapan karbon dari atmosfer dan penyimpanannya dalam beberapa kompartemen tumbuhan, serasah, dan materi organik tanah lainnya (Hairiah & Rahayu, 2007). Tanah pada ekosistem mangrove juga kaya mikroorganisme, menurut Setyawan et al., (2002) sesendok teh lumpur mangrove mengandung lebih dari 10 juta bakteri, lebih kaya dari lumpur manapun. Bakteri ini membantu penguraian serasah daun dan bahan organik lainnya.

Secara sosial ekonomi mangrove memiliki fungsi yang tidak kalah penting. Melihat beragamnya manfaat mangrove, maka tingkat dan laju perekonomian pedesaan yang berada di kawasan pesisir seringkali sangat bergantung pada habitat mangrove yang ada di sekitarnya. Contohnya, perikanan pantai yang sangat dipengaruhi oleh keberadaan mangrove, merupakan produk yang secara tidak langsung mempengaruhi taraf hidup dan perekonomian desa-desa nelayan (Noor et al., 2006; Setyawan & Winarno, 2006).

Tempat Belajar Kontekstual

Dewasa ini, penggunaan kawasan mangrove sebagai lokasi wisata mulai banyak dikembangkan. Setyawan et al. (2002) menjelaskan bahwa fungsi pendidikan dan ekowisata dari hutan mangrove, di antaranya nilai komersial terbaru ekosistem mangrove yaitu ekowisata. Kehidupan liar mangrove merupakan atraksi wisata yang menarik, seperti migrasi burung-burung air, ikan gelodok yang dapat memanjat, dan lain sebagainya.

Ekosistem mangrove potensial sebagai sumber belajar yang kontekstual, pembelajaran yang dapat dilakukan pada kawasan ini yaitu praktikum lapangan. Habitat mangrove dapat berperan penting dalam program pendidikan, rekreasi, konservasi, dan penelitian.  Menjadikan ekosistem mangrove sebagai tempat belajar secara langsung mampu menumbuhkan rasa keikutsertaan kita dalam menjaga cagar alam, suaka marga satwa, taman nasional, maupun cagar biosfer.

Banyak hal yang dapat dipelajari dari ekosistem mangrove seperti perannya dalam melindungi pantai dari gelombang, angin dan badai (Noor et al., 2006). Tegakan mangrove dapat melindungi pemukiman, bangunan, dan pertanian dari angin kencang atau abrasi air laut. Mangrove juga terbukti memainkan peran penting dalam melindungi pesisir dari terjangan badai. Kemampuan mangrove untuk mengembangkan wilayahnya ke arah laut merupakan salah satu peran penting mangrove dalam pembentukan lahan baru. Akar mangrove mampu mengikat dan menstabilkan substrat lumpur, pohonnya mengurangi energi gelombang dan memperlambat arus, sementara vegetasi secara keseluruhan dapat memerangkap sedimen.

Sistem perakaran sangat penting untuk keberlangsungan hidup mangrove. Akar pada tumbuhan mangrove memiliki adaptasi khusus untuk tumbuh di tanah yang lembut, asin (salinitas tinggi), dan kekurangan oksigen, di mana kebanyakan tumbuhan tidak mampu melakukannya. Tanah pada ekosistem mangrove seringkali anaerob, maka beberapa tumbuhan mangrove membentuk struktur khusus berupa akar napas (pneumatofora) yang muncul dari permukaan tanah. Akar di atas tanah ini dipenuhi dengan jaringan parenkim spons (aerenkim) dan memiliki banyak lubang-lubang kecil di kulit kayu sehingga oksigen dapat masuk dan diangkut ke sistem akar di bawah tanah. Akar ini juga berfungsi sebagai struktur penyokong pohon di tanah lumpur yang lembut (Setyawan et al., 2002).

Kabar baiknya, berdasarkan Noor et al, (2006)  Indonesia memiliki hutan mangrove seluas 3,5 juta hektar, dengan luas ini menempatkan Indonesia sebagai negara yang memiliki hutan mangrove terluas di dunia (18-23%) melebihi negara seperti Brazil (1,3 juta ha), Nigeria (1,1 juta ha), dan Australia (0,97 juta ha). Umumnya mangrove dapat ditemukan di seluruh kepulauan Indonesia. Komposisi keberadaan mangrove di nusantara paling luas berada di Irian Jaya sekitar 1.350.600 ha (38%), Kalimantan 978.200 ha (28%), dan Sumatera 673.300 ha (19%).  Mangrove di Indonesia tumbuh dan berkembang dengan baik pada pantai yang memiliki sungai yang besar dan terlindung.

Pengalaman Belajar di Ekosistem Mangrove

Sebelum Pandemi COVID-19, Penulis pernah berkunjung ke Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) untuk melakukan penelitian vegetasi mangrove. penulis banyak bertemu dengan Warga Negara Asing dari Eropa yang sedang berlibur disana, mereka memegang prinsip belajar kapanpun dan dimanapun. Pada moment itu mereka juga menyertakan anak-anaknya dalam wisata. Aktifitas mereka yaitu mengamati fauna diantaranya yaitu burung, ikan, dan berharap bertemu satwa endemik yaitu Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) di kawasan Cidaon.

Sementara pengamatan flora yaitu berbagai jenis mangrove yang dijumpai, kelengkapan organnya mulai dari biji, semai, pancang dan pohon yang mereka temui ditiap kiri dan kanan jalan mereka. Setelahnya anak-anak bertanya kepada orang tua mereka, kemudian orang tua menjelaskan kepada mereka fungsi dan peran mangrove dalam kaitannya dengan lingkungan, upaya pelestarian dan konservasinya jika mengalami kerusakan. Di akhir pengataman orang tua mengadakan kuis yang menarik kemudian disambut antusias anak-anak untuk menjawabnya. Walapun sepertinya terjadi perselisihan diantara anak-anak itu karena merasa yakin dengan jawabannya, hanya saja terlambat menjawab dari saudara satunya. Pengemasan cara belajar seperti ini tentu menjadi pengalaman yang sangat menyenangkan, kedekatan emosional anak dan orang tua semakin baik, pemenuhan nutrisi otak pun menjadi nilai tambah tersendiri bagi mereka.

Ada rasa iri melihat kecerian ini, iri ketika sebagian besar dari kita belum bisa melakukan proses belajar semenarik  ini. Ada juga rasa bangga, bangga ketika warga asing begitu kagum dengan kekayaan alam kita miliki. Andai tiap keluarga di Indonesia paham bahwa sebagai generasi pembelajar semua jenis lingkungan bisa menjadi sumber belajar, maka sumber daya yang melimpah ruah ini bisa menjadi sumber belajar yang menarik termasuk ekosistem mangrove. Cukup disayangkan memang, pendidikan kita belum sampai pada tahapan ini. Pendidikan kita umumnya menekankan pada angka dan nilai secara kognitif di dalam kelas, belum sampai pada pemanfaatan sumber daya alam secara baik sebagai sumber belajar.

 


 

Gigin Ginanjar, M.Pd.

 

Penulis merupakan Alumni Pascasarjana Universitas Negeri Malang Program Studi S2 Pendidikan Biologi Angkatan 2016